1. Tuliskan apa arti dan isi dari teologi?
Secara terminologi atau arti kata, teologi berasal dari bahasa Yunani(Theos=Allah; dan Logos=Ilmu). Dari terminologi ini, dapat dirumuskan bahwa teologi secara umum adalah ilmu akali tentang Allah. Teologi juga dapat dirumuskan sebagai ilmu atau metode yang dipakai oleh manusia untuk dapat memahami Allah yang tersembunyi(misteri). Titik tolak teologi sebagai kesadaran reflektif dari iman, adalah apa yang kita sebut sebagai kekaguman akan yang Ilahi dan kemudian bertanya “mengapa aku beriman?” Pengetahuan teologis memampukan manusia untuk menyadari anugerah dari panggilan untuk hidup dalam Persekutuan dengan Allah. Manusia yang beriman dan meyakini Allah yang tersembunyi namun nyata itu memerlukan penjelasan dari akal sehingga anugerah iman dan akal budi mendapat tempat yang relevan dalam hidup beriman manusia. Teologi bukanlah istilah khas Kristen melainkan merupakan istilah umum yang sudah digunakan sejak dahulu oleh berbagai orang atau tokoh di sepanjang sejarah hidup manusia. Aristoteles misalnya mengidentikkan teologi dengan metafisika. Kaum stoa menjelaskan bahwa teologi adalah rasio yang menjelaskan tentang para dewa. Secara bertahap, baik di Timur pun di Barat penggunaan istilah ini dalam lingkup kekristenan semakin kuat. Muncul banyak tokoh Kristen yang mencoba merumuskan teologi dalam lingkup iman kekristenan. Thomas Aquinas misalnya merumuskan teologi sebagai bentuk pengetahuan rasional atas ajaran kristiani. Apa yang diterima oleh iman sebagai anugerah, dijelaskan dan diterangkan oleh teologi dalam terang pemahaman manusia dengan hukum-hukumnya sendiri. Dalam konsep kekristenan, teologi menerima kepenuhan dan kebenarannya dalam diri Yesus Kristus dari Nazaret yang merupakan tanda Kasih dan penyerahan diri Allah secara total kepada umat manusia. Dalam diri Yesus, teologi sekaligus menerima objek penyelidikannya. Sengsara, wafat, dan kebangkitan merupakan jaminan keselamatan yang telah diberikan dalam penantian akan kepenuhannya secara eskatologis.
Isi teologi(dalam terang kristiani) adalah pewahyuan Allah dalam diri Yesus Kristus atau keseluruhan misteri inkarnasi Allah menjadi manusia. Pewahyuan merupakan dasar dan pusat teologi, sekaligus isinya yang khas. Pewahyuan sebagai dasar teologi mengandaikan perhatian pada tiga unsur: apa yang sudah nyata dan sudah berdasar, apa yang sedang didasarkan, dan apa yang belum didasarkan tetapi akan didasarkan. Pewahyuan merupakan suatu realitas yang dinamis.
2. Tuliskan apa relasi iman dan teologi menurut konsili Trente ?
Konsili Trente menegaskan bahwa iman lahir dari pewahyuan Allah, bukan dari akal manusia semata. Karena itu, semua refleksi teologis harus berakar pada wahyu ilahi yang disampaikan melalui Kitab Suci dan Tradisi Suci. Trente tidak menolak peran akal budi, tetapi menegaskannya dalam posisi yang melayani iman. Akal budi dipakai untuk menjelaskan, menafsirkan, dan memperdalam kebenaran iman, bukan untuk menggantikannya. Dengan demikian, iman mendahului teologi, sementara teologi menggunakan akal budi yang diterangi iman (fides quaerens intellectum) untuk mengungkap makna dan implikasi iman itu. Trente menegaskan bahwa iman dan teologi harus selalu berada dalam kesatuan dengan ajaran Gereja. Teologi yang sejati tidak dapat bertentangan dengan iman Gereja, karena keduanya bersumber pada otoritas pewahyuan yang sama, yaitu Allah sendiri yang berbicara melalui Gereja.
3. Tuliskan, apa relasi iman dan teologi menurut KV II?
Vatikan II menegaskan bahwa iman tidak dapat muncul kecuali didahului dan dibantu oleh rahmat Roh Kudus yang menggerakkan hati dan membuka mata akal budi. Kemudian, konsili menegaskan, untuk mencapai pemahaman yang lebih dalam tentang wahyu, iman harus disempurnakan oleh karunia-karunia Roh Kudus. Dari empat artikel pertama Dei Verbum, ada kesan bahwa iman dihasilkan oleh pernyataan yang tegas dari karya-karya Allah yang luar biasa di dalam sejarah keselamatan, dan bukannya melalui penelitian dan penalaran manusia. Peranan Roh Kudus mendapat tempat utama dalam pembentukan iman manusia kepada Allah. Iman memberi dasar bagi teologi, teologi memperdalam iman — keduanya bertemu dalam persekutuan Gereja yang dipimpin oleh Roh Kudus.
4. Tuliskan apa relasi dan buah iman dan teologi berdasarkan ensiklik Paus Fransiskus Lumen Fidei?
Relasi utama antara iman dan teologi dalam ensiklik ini adalah bahwa Teologi itu bergantung pada iman. Teologi merupakan kebijaksanaan yang lebih tinggi yang didasarkan pada dasar-dasar iman(Thomas Aq). Teologi juga berpartisipasi dalam upaya pengenalan akan Allah. Teologi harus melayani iman. «Teologi suci bertumpu pada sabda Allah yang tertulis, bersama dengan Tradisi suci, sebagai landasan yang tetap. Disitulah teologi amat sangat diteguhkan dan selalu diremajakan, dengan menyelidiki dalam terang iman segala kebenaran yang tersimpan dalam rahasia Kristus. Adapun Kitab suci mengemban sabda Allah, dan karena diilhami memang sungguh-sungguh sabda Allah. Maka dari itu pelajaran Kitab Suci hendaklah bagaikan jiwa Teologi Suci. Selain itu teologi juga harus bekerjasama dengan sumber iman Gereja Katolik. Para teolog harus bekerja di bawah pengawasan wewenang mengajar yang suci. Atas semuanya itu, kerendahan hati adalah sikap utama dan pertama teologi. Teologi menyadari ketidaksempurnaannya dan mengakui keterbatasannya sendiri di hadapan misteri. Sikap ini tampak pada kerendahan hatinya di hadapan Allah dan Gereja Kerendahan hatinya tampak pada kesediaannya dalam doa dan membaca Kitab Suci, sebagaimana Gereja mengamanatkan demikian.
Buah-buah iman dan teologi:
Kasihà Iman dan teologi mendorong orang untuk semakin mengenal Allah Bapa yang maha Pengasih. Dia mengutus Putra-Nya yang tunggal, Tuhan kita Yesus Kristus demi keselamatan manusia. Manusia semakin mengenal Tuhan Penyelamat yang nampak dari sikap saling mengasihi.
Pelayananà Dengan sikap saling mengasihi, kasih itu akan semakin nampak dan ditunjukkan dalam pelayanan. Orang beriman senantiasa belajar kepada Tuhan kita Yesus Kristus, yang datang ke dunia ini untuk melayani dan bukan untuk dilayani (bdk. Mrk 10,45). Pelayanan ini akan nampak dalam karya amal kasih yang terdapat dalam rumusan tujuh amal kasih jasmani dan tujuh amal kasih rohani.
Perayaan Liturgià Di dalam perayaanliturgi ini, umat beriman memanjatkan pujian dan syukur kepada Allah yang maha Pengasih. Pujian dan syukur akan berpusat dan berpuncak dalam perayaan Ekaristi. Ekaristi adalah sumber dan puncak kehidupan umat beriman.
5. Terangkanlah hubungan antara komunikasi dan misi, antara komunikasi dan Persekutuan dengan merenungkan 1Yoh 1: 1-4?
Komunitas Kristiani, sesuai dengan kehendak Tuhannya, ada untuk mewartakan Injil. Kristus yang bangkit menegur para murid yang tidak percaya kepada orang yang telah melihat kebangkitan-Nya(Maria Magdalena dan dua orang murid). Oleh sebab itu sebelum kenaikan-Nya ke surga, Yesus mengucapkan kata-kata terakhir ini: “Pergilah ke seluruh dunia dan wartakanlah Injil kepada segala makhluk.” Inilah mandat misioner dari Kristus yang bangkit kepada Gereja yang baru lahir di Yerusalem. Gereja yang lahir pada hari Pentakosta bebicara dalam semua bahasa dan dipanggil untuk menyampaikan pesan Kristus kepada setiap kebudayaan. Gereja ada demi pewartaan kabar gembira(Injil). Berkomunikasi bagi komunitas Kristiani bukanlah sekadar sebuah metode maupun gaya strategis melainkan inti dari keberadaannya. Gereja dalam perjalanannya di bumi mempunyai hakikat misioner. Lebih lanjut, pewartaan kabar gembira bukanlah sekadar penyampaian data dan informasi, melainkan suatu komunikasi yang menumbuhkan iman di dalam hati mereka yang mendengarnya, sehingga terbangunlah Persekutuan.
6. Uraikanlah Persekutuan gerejawi pada saat yang sama tidak terlihat dan terlihat berdasarkan Surat kepada uskup Gereja tentang bebrapa aspek gEreja yang dimengerti sebagai Persekutuan!
Dalam realitasnya yang tidak terlihat, Gereja adalah Persekutuan setiap orang dengan Bapa melalui Kristus dalam Roh Kudus dan dengan orang lain yang berbagi dalam kodrat Ilahi, dalam sengsara Kristus, dalam iman yang sama, dan dalam roh yang sama.(satu iman yang sama) Ada hubungan erat antara Persekutuan yang tidak terlihat ini dengan Persekutuan yang terlihat, yg tampak dalam ajaran para Rasul, dalam sakramen2, dan dalam tatanan hierarkis. Dalam karunia-karunia yang terlihat itu, Kristus dengan berbagai cara menjalankan dalam sejarah fungsi kenabian, imamat, dan kerajaan-Nya untuk keselamatan manusia. Hubungan antara kedua Persekutuan ini merupakan bagian konstitutif dari Gereja sebagai Sakramen keselamatan. Dari sakramentalitas ini, dapat disimpulkan bahwa Gereja bukanlah suatu realitas yang tertutup dalam dirinya sendiri, melakinkan senantiasa terbuka thd dinamika misioner dan ekumenis, karena Gereja diutus ke dunia untuk mewartakan dan memberi kesaksian, mengaktualisasikan dan memperluas misteri Persekutuan yang membentuknya: untuk mempersatukan semua orang dan segala sesuatu dalam Kristus.
7. Terangkanlah apa yang dimaksud dengan Gereja Universal dan Gereja-Gereja particular berdasarkan surat kepada para uskup Gereja Katolik tentang beberapa aspek Gereja yang dimengerti sebagai Persekutuan?
Gereja universal adalah seluruh Gereja Kristus yang satu dan sama yang hadir di dunia ini. ia adalah tubuh Mistik Kristus yang mencakup semua umat beriman yang dipersatukan dalam roh Kudus dengan Paus sebagai penerus Santo Petrus sebagai prinsip dan dasar kesatuan yang kelihatan. Gereja universal bukanlah hasil dari Persekutuan Gereja-Gereja partikular melainkan dalam misterinya merupakan realitas ontologis dan kronologis yang mendahului setiap gereja particular. Ia bersumber dari rencana penyelamatan Allah, diwujudkan oleh Kristus dan dipelihara oleh Roh Kudus à Gereja Kristus yang satu, kudus, dan apostolis. Di dalam Gereja universallah seluruh umat beriman di dunia membentuk satu tubuh dalam satu iman, datu baptisan, dan satu ekaristi.
Gereja pertikular adalah Gereja setempat yang dipimpin oleh seorang uskup, yang bersama imam dan umatnya membentuk satu Gereja lokal di mana Gereja Kristus sungguh hadir. Ia dibentuk menurut citra Gereja universal; di dalam dan darinya hadir Gereja yang satu, kudus, dan apostolik. Relasi antara dua gereja ini bersifat mutual yakni saling mengandaikan dan memperkaya, bukan hirarkis atau fungsional semata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar